Skip to content

Euclidean dalam Origami dan Arsitektur

April 2, 2012

Sejak berada di bangku sekolah dasar kita telah diperkenalkan dengan bentuk-bentuk bangun dasar sederhana seperti segitiga, persegi, persegi panjang dan lain-lain. Bangun datar tersebut dapat dibentuk dengan  menggunakan penggaris dan jangka yang disebut dengan konstruksi Euclid. Selain menggunakan penggaris dan jangka, dapat pula dengan menggunakan kertas dengan cara melipat-lipatnya yang dikenal dengan seni origami.

Origami merupakan seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Origami, berasal dari kata oru -to fold, melipat; dan kami -paper, kertas. Hal yang menarik adalah origami dapat dipandang sebagai representasi dari bentuk-bentuk euclid yang kita pelajari dalam matematika. Bahkan bapak origami Akira Yoshizawa sendiri juga mengajarkan geometri melalui origami.

Dalam seni origami, garis lurus menjadi sebuah lipatan. Dengan membandingkan lipatan pada origami sebagai sebagai bentuk pencerminan, maka didapat hubungan antara origami dan konstruksi euclid. Apakah hubungan origami dengan bentuk-bentuk dari konstruksi Euclid?

Dalam origami dikenal istilah diagram, yaitu urutan cara melipat sehingga didapatkan hasil tertentu. Misalnya bagaimana urutan membuat origami pinguin seperti pada gambar di bawah ini.

Dalam urutan melipat kertas menjadi bentuk pinguin ini, langkah pertama adalah membuat segitiga siku-siku dengan melipat secara diagonal kertas origami. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa origami merupakan representasi dari konstruksi euclid,  maka dari gambar tersebut dapat terlihat bahwa membuat bentuk seperti pinguin diawali dengan membentuk sebuah bangun datar sederhana berupa segitiga siku-siku yang merupakan salah satu bentuk euclidean yang pada mulanya dibuat menggunakan penggaris dan jangka.

Lalu bagaimanakah hubungan bentuk-bentuk euclid melalui origami ini dengan arsitektur?

Ide dari seni origami ini adalah mengubah bentuk 2 dimensi menjadi bentuk 3 dimensi. Salah satu unsur yang mendasar dari origami adalah melipat. Folding atau melipat dalam arsitektur merupakan sebuah perlakuan pada suatu material (biasanya kertas) yang mengakibatkan perubahan bentuk pada material tersebut. Para arsitek biasanya menggunakan teknik origami ini untuk mengeksplorasi geometri dan keindahan. Dengan cara demikian didapatkan sebuah bentuk 3 dimensional yang mebentuk sebuah ruang yang kemudian mereka aplikasikan ke dalam ruang yang didesain. Bentuk-bentuk yang kemudian ditemukan sebenarnya tidak lepas dari bentuk-bentuk sederhana euclid yang berupa segitiga, persegi, ataupun persegi panjang yang kemudian mengalami modifikasi bentuk sehingga tercipta bentuk lain dengan memperhitungkan sisi estetisnya.

Berikut adalah contoh-contoh pengaplikasian origami dalam arsitektur. Seperti terlihat di gambar, bentuk-bentuk dasar euclidean masih terlihat dalam desainnya.

Image

West Coast Pavilion, Elena Manferdini, Beijing
http://sylviehagens.wordpress.com/page/14/

 

 

sumber:

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/196009011987032-DIAN_USDIYANA/Memahami_Bentuk_Aljabar_Melalui_Origami.pdf

http://www.cut-the-knot.org/pythagoras/PaperFolding/index.shtml

http://arsitektur.net/2008-2/origami-folding-topologi

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: